Update Informasi terbaru | 2019

Selasa, 23 Oktober 2018

Kabel Bawah Laut Australia-Indonesia XL Ikut Bangun Jaringan Internet




XL Axiata (XL) turut serta dalam investasi proyek penggelaran sistem komunikasi kabel laut (SKKL) Australia-Indonesia-Singapura untuk memperluas kapasitas bandwidth serta mendapat jalur akses alternatif ke luar negeri.

Adapun kapasitas yang diperoleh dari jalur akses menggunakan SKKL tersebut sebesar 30 TB untuk jalur Indonesia ke Singapura dan 20 TB untuk jalur Indonesia ke Australia.

" Kabel laut ini tidak berhubungan dengan peningkatan kecepatan akses, tapi lebih ke arah resiliensi (ketahanan) dari jaringan ke internasional," terang Chief Service Management Officer XL, Yessie D. Yosetya dalam Peresmian Pembangunan Proyek Jaringan Komunikasi Kabel Laut Australia-Indonesia-Singapura di Jakarta, Senin (11/12/2017).

Menurutnya rute koneksi internasional utama saat ini adalah melalui Singapura. Dengan adanya SKKL yang bisa terhubung ke luar negeri melalui Australia, operator telekomunikasi jadi memiliki saluran alternatif untuk mengalihkan kepadatan lalu lintas internet.

Selain itu, SKKL Australia-Indonesia-Singapura lebih aman dari gangguan gempa bumi jika dibandingkan dengan jalur lain yang melintasi Luzon Straits, Filipina.

Pembangunan kabel laut yang menghubungkan Australia-Indonesia-Singapura dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi Australia, Vocus Group dan perusahaan kabel laut Alcatel Submarine Networks (ASN).

Sedangkan XL berperan membangun landing station yang merupakan gerbang untuk mengakses SKKL tersebut di Indonesia. Landing point kabel laut untuk wilayah Indonesia  berada di Anyer, Banten.

SKKL tersebut bakal membentang dari Australia, melewati Indonesia dan berujung di Singapura dengan panjang kabel 4.600 kilometer. Proses pembangunan SKKL itu sudah berjalan dan targetnya bakal mulai beroperasi pada kuartal ketiga 2018.

Adapun, keunggulan SKKL ini spesifikasinya yang memiliki 4 Fibre Pairs untuk fleksibilitas koneksi, monitoring 24 jam, 7 hari seminggu (24/7) dan transmisi DC yang menghubungkan antara Australia dan Singapore.
Bagikan:

Rabu, 10 Oktober 2018

Jenis Pekerjaan yang Paling Banyak di Cari di Tahun 2018

Jenis Pekerjaan yang Paling Banyak di Cari di Tahun 2018

Karyawan harus mempersiapkan diri dengan perubahan pada karier mereka, sejalan dengan makin besarnya peran teknologi dalam lingkungan kerja.

Namun, kabar baiknya adalah tidak semua pekerjaan akan digantikan oleh mesin atau teknologi.

CEO perusahaan perekrutan global Hays, Alistair Cox menyatakan, meski banyak pihak yang memprediksi tenaga kerja manusia akan semakin lenyap, namun pihaknya tidak memandang demikian.

"Faktanya, kami melihat adanya ledakan pekerjaan terkait data dan kecerdasan artifisial (AI), serta sejumlah permintaan untuk posisi spesifik yang terkait soft skill, seperti adaptibilitas, kreativitas, dan kolaborasi," ujar Cox seperti dikutip dari Business Insider, Senin (8/1/2018).

Menurut Cox, tidak semua keterampilan kerja bisa dilakukan oleh mesin. Algoritma, imbuh dia, tidak bisa membaca hal seperti humor, temperamen, atau antusiasme sama efektifnya dengan yang bisa dilakukan oleh manusia.

Cox menyarankan agar para karyawan menjaga keterampilan mereka secara relevan. Tujuannya agar tetap dapat memikat perusahaan, sementara perusahaan juga harus mempersiapkan para karyawannya agar tetap kompetitif.

Cox memprediksi akan lebih banyak permintaan terhadap pekerjaan terkait data sepanjang tahun 2018 di seluruh dunia. Pekerjaan seperti analis data, ilmuwan data, data artist, dan data visualiser akan diincar pada tahun ini.

Data pun mendukung sejumlah pekerjaan sektor spesifik, seperti pekerjaan-pekerjaan terkait pemasaran, seperti otomasi pemasaran dan analisis konsumen. Permintaan ini didorong oleh kalangan dunia usaha yang ingin membidik konsumen dengan cara yang lebih mutakhir.

Pekerjaan yang lain yang akan banyak diincar adalah cyber security officer, software developer, dan data protection officer.

Dari sisi direksi, Cox memprediksi akan ada permintaan untuk posisi Chief Automation Officer dan Chief Innovation Officer alias direktur inovasi.

Chief Automation Officer bertugas mengenali potensi AI untuk mendukung kinerja perusahaan, sementara direktur inovasi mengelola proses inovasi dan perubahan.
Bagikan: