Update Informasi terbaru | 2019

Rabu, 29 Agustus 2018

Iphone Jadi Gadget Paling Laris di Tahun 2017 Lalu



Gadget mana yang paling laku terjual sepanjang tahun 2017 lalu? Jawabannya, menurut firma riset pasar GBH Insights, adalah ponsel pintar iPhone besutan Apple.

Dirilis menjelang akhir 2017, data GBH Insights memprediksi penjualan gabungan tiga model iPhone sepanjang 2017 ( iPhone 8, iPhone 8 Plus, dan iPhone X) di seluruh dunia bakal mencapai kisaran 223 juta unit.

Jumlah itu lebih tinggi dibanding penjualan iPhone tahun lalu yang tercatat sebanyak 211 juta unit, tapi lebih sedikit dibanding puncaknya sebesar 230 juta unit pada 2015.

Setelah iPhone, di urutan kedua ada Samsung Galaxy S8 dan Galaxy Note 8 yang angka penjualan gabungannya mencapai 33 juta unit.

Setelah itu berturut-turut menyusul gadget dari jenis lain, yakni speaker pintar Amazon Echo Dot (24 juta unit), arloji pintar Apple Watch (20 juta unit), dan konsol game Nintendo Switch (15 juta unit).

Apple mengambil langkah riskan dengan memperkenalkan tiga model iPhone pada 2017. Duo iPhone 8 dan iPhone 8 Plus segera kalah pamor dari iPhone X yang dirilis belakangan.

Namun, nyatanya pabrikan yang berbasis di Cupertino, Amerika Serikat itu masih berhasil menjual lebih banyak iPhone dibanding tahun sebelumnya.

Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari USA Today, Selasa (2/1/2017), analis GBH Insights Daniel Ives memperkirakan penjualan iPhone pada 2018 bakal lebih tinggi lagi karena tahun ini Apple diperkirakan bakal memperbarui lini ponsel iPhone SE yang lebih terjangkau.

Akan halnya Samsung, meski dua modelnya kalah laris dari iPhone, jumlah total penjualan smartphone (semua lini Galaxy) besutan raksasa Korea Selatan tersebut masih lebih banyak dibanding Apple.

Tahun 2016 saja Samsung berhasil menjual 320 juta perangkat. Sementara, untuk platform mobile secara keseluruhan, Android menguasai 85 persen, sedangkan iOS (iPhone) 15 persen.
Bagikan:

Rabu, 01 Agustus 2018

Pertama Kalinya di Olimpiade Teknologi Pengenal Wajah Digunakan



Olimpiade 2020 yang akan digelar di Tokyo, Jepang akan didukung dengan teknologi pengenal wajah (facial recognition). Teknologi ini akan dipakai untuk kali pertama sepanjang sejarah Olimpiade. Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 menggandeng NEC Corp.

Menurut panitia penyelenggara, teknologi ini akan meminimalisir risiko kemanan atas kartu identitas. Selain itu, teknologi deteksi wajah juga dinilai mampu mempercepat antrean para atlet, pejabat, dan awak media ketika masuk ke berbagai lokasi.

Untuk mengatur sistem, para atlet, pejabat, dan jurnalis akan dibekali kartu pengenal. Pada kartu tersebut, terdapat foto dari pemegang kartu. Foto wajah dalam kartu inilah yang kemudian akan disimpan dalam sebuah database.

Saat pemegang kartu masuk ke area venue, sistem pengenal wajah akan membandingkan gambar dalam foto dengan wajah asli. Proses ini akan berjalan cepat jika kartu tanda pengenal dipegang oleh pemilik kartu yang sebenarnya. Namun, jika kartu tersebut didapatkan dari hasil curian, proses verifikasi akan berlangsung lebih sulit.

Berdasarkan informasi yang dihimpun KompasTekno dari Japan Today, Kamis (28/12/2017), sistem tersebut diperkirakan mampu mendeteksi hingga 400.000 wajah orang. Sistem pengenal wajah sebetulnya bukanlah hal baru. Sebab, beberapa smartphone telah mengadopsi sistem ini untuk keamanan perangkat.

Meski begitu, penerapan teknologi ini di ajang Olimpiade menorehkan sejarah. Ia tercatat sebagai adopsi  teknologi pengenal wajah terbesar sekaligus pertama kalinya di sepanjang sejarah Olimpiade.

Olimpiade Tokyo dijadwalkan berlangsung antara 24 Juli - 9 Agustus 2020. Kemudian dilanjutkan dengan perhelatan Paralimpiade mulai 25 Agustus - 6 September 2020.

Mengingat Olimpiade masih akan diselenggarakan dua tahun lagi, NEC masih akan menyempurnakan teknologi ini melalui beberapa pengujian. Termasuk menghitung efektivitas sehingga tidak akan terjadi antrean di gerbang masuk.

NEC sendiri telah mengembangkan teknologi pengenalan wajah selama bertahun-tahun. Pada 2014 lalu, NEC telah membuat sistem pendeteksi wajah bernama NeoFace. Sistem ini sempat menjadi bahan perbincangan lantaran kemampuannya membantu Depertemen Kepolisian Chicago melacak seorang tersangka kriminal.
Bagikan: